Senin, 23 Januari 2012

sistem imun

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM IMUN
SEJARAH IMUNOLOGI
1.      Edward Jenner (1796) à vaksinasi dengan nanah pok sapi. Diangkat sebagai pendiri imunologi
2.      Louis Pasteur (1880) à peran mikroorganisme dalam proses fermentasi yang berhasil mengisolasi dan memurni-manaskan (pasteurisasi). Dianggap sebagai bapak imunologi
3.      Robert Koch (1882) à mengisolasi kuman antraks dan tuberkulosis
GAMBARAN UMUM SISTEM IMUN
1.      Imunitas
à resistensi terhadap penyakit terutama infeksi
2.      Sistem Imun
à gabungan sel, molekul dan jaringan yg berperan dlm resistensi terhadap infeksi
3.      Respon Imun
à reaksi yg dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul dan bahan lainnya terhadap mikroba

Mekanisme imunitas spesifik timbul atau bekerja lebih lambat daripada imunitas non spesifik Namun perbedaan ini hanya dimaksudkan untuk memudahkan pengertian saja. Sebenarnya antara kedua sistem tersebut terjadi kerjasama yang erat, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya
SISTEM IMUN NON SPESIFIK
1.      Merupakan komponen normal tubuh
2.      Selalu ditemukan pada individu sehat
3.      Siap mencegah mikroba yang masuk tubuh dan dengan cepat menyingkirkannya
4.      Disebut non spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu
5.      Merupakan pertahanan terdepan terhadap berbagai serangan mikroba






PERTAHANAN FISIK/MEKANIK
1.      Kulit à keratinosit dan lapisan epidermis kulit sehat dan epitel mukosa yang utuh tidak dapat ditembus kebanyakan mikroba. Integritas kulit yang rusak, misalnya pada luka bakar, dapat menjadi port d’entre dari mikroba
2.      Selaput lendir à bila rusak, misalnya selaput lendir saluran nafas yang rusak karena merokok, akan meningkatkan resiko infeksi
3.      Silia saluran nafas
4.      Batuk dan bersin
PERTAHANAN BIOKIMIA
1.      Pada kulit didapatkan:
-pH asam keringat
-sekresi sebaseus
-asam lemak
  1. Lisozim didapatkan dalam :
-Keringat
-Ludah
-air mata
-ASI
ASI juga mengandung laktooksidase dan asam neuraminik yang mempunyai sifat antibakterial terhadap E. coli dan stafilokokus
PERTAHANAN BIOKIMIA
1.      Saliva à mengandung laktooksidase
2.      As. hidroklorida dalam lambung
3.      pH asam dalam vagina dan permin dalam semen dapat mencegah tumbuhnya bakteri gram positif
PERTAHANAN HUMORAL
1.      Molekul larut yg diproduksi di tempat infeksi/cedera dan berfungsi lokal:
Defensin
Katelisidin
Interferon à efek antiviral
  1. Molekul larut yang diproduksi di tempat yang lebih jauh dan dikerahkan ke jaringan sasaran melalui sirkulasi:
Komplemen
Protein Fase Akut
Aktivasi jalur Komplemen
1.      Aktivasi komplemen melalui 3 jalur:
Jalur Alternatif: langsun menempel pada kuman
Jalur Klasik: membutuhkan Antibodi
Jalur MBL (Mannose Binding Lectin): membutuhkan protein MBL yang dapat menempel pada kuman
PERTAHANAN SELULER
1.      Diperankan oleh:
Fagosit
Sel NK
Sel mast
Eosinofil
  1. Dapat ditemukan di sistem sirkulasi maupun jaringan
SISTEM IMUN SPESIFIK
1.      Mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya
2.      Benda asing yang pertama kali terpajan dengan tubuh akan segera dikenal oleh sistem imun spesifik akan terjadi sensasi sehingga bila antigen yang sama akan masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan
Sistem Imun Spesifik terdiri dari:
1.      Sistem humoral
2.      Sistem seluler
SISTEM IMUN SPESIFIK HUMORAL
1.      Terutama diperankan oleh: Limfosit B atau Sel B
2.      Sel B berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang
3.      Sel B yang dirangsang oleh benda asing akan berproliferasi, berdiferensiasi dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi
ANTIBODI
      Fungsi utama:
pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler, virus dan bakteri serta menetralkan toksinnya
IgG
1.      Merupakan komponen utama imunoglobulin serum (75% dari semua imunoglobulin)
2.      Ditemukan dalam:
Darah
Cairan serebrospinal
Urin
Peritoneal
3.      Dapat menembus plasenta à masuk ke janin dan berperan pada imunitas bayi s/d umum 6-9 bln
IgA
1.      Memiliki rumus bangun dimer
2.      Ditemukan dalam jumlah sedikit di serum
3.      Kadar terbanyak ditemukan dalam:
cairan sekresi saluran nafas, cerna dan kemih
air mata
Keringat
saliva
ASI (berupa IgA sekretorik)
IgM
1.      Memiliki rumus bangun pentamer
2.      Merupakan imunoglobulin yang terbesar
3.      Dibentuk paling dahulu pada respon imun primer terhadap kebanyakan antigen dibandingkan dengan IgG
4.      Merupakan imunoglobulin yang predominan diproduksi janin à bila didapatkan kadar IgM yang tinggi dalam darah umbilikus, merupakan tanda adanya infeksi intrauteri
IgD
1.      Ditemukan dalam serum dengan kadar yang sangat rendah (1%)
2.      Merupakan komponen permukaan utama dari sel B
3.      Ditemukan banyak pada membran sel B bersama IgM yang dapat berfungsi sebagai reseptor antigen pada aktivasi sel B
4.      Mempunyai aktivitas antibodi terhadap berbagai makanan dan autoantigen seperti komplomen nukleus
IgE
1.      Mudah diikat oleh sel mast, basofil dan eosinophil
2.      Dibentuk oleh sel plasma setempat dalam selaput lendir saluran nafas dan cerna
3.      Kadar IgE yang tinggi ditemukan pada keadaan:
Alergi
Infeksi cacing
Imunitas parasit
SISTEM IMUN SPESIFIK SELULER
1.      Terutama diperankan oleh: Limfosit T atau Sel T
2.      Sel T berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus
SISTEM IMUN SPESIFIK SELULER
1.      Sel T terdiri dari beberapa subset sel dgn fungsi yg berlainan:
Sel CD4+ (Th1, Th2)
Sel CD8+ (CTh, Tc)
Tr atau Th3
  1. Fungsi utama: pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan keganasan
DETERMINAN SISTEM IMUN
1.      Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem imun non spesifik:
Spesies
Usia
Hormon
Suhu
Nutrisi
Flora bakteri normal
URTIKARIA
1.      ANTIGEN
Zat asing yang dapat merangsang pembentukan antibody
Antigen            = Alergen
= Imunogen
= Atopen
HAPTEN :
1.      Zat Kimia
2.      BM (rendah) kecil
3.      Bila bergabung dengan prot. Badan ® antigen
CARA ANTIGEN MASUK BADAN :
1.      Kontak langsung dengan permukaan kulit
2.      Jalan nafas (alergen  Inhalan)
3.      Traktus Digestivusà90% berupa makanan
4.      Parenteralàobat
MACAM ALERGEN :
1.      Inhalan            : debu rumah, tungau, jamur, tepung sari rumput (pollen), serpih kulit (0,1 mg/hr)
2.      Ingestan          : susu, telur, ikan, kacang-kacangan (Makanan)
3.      Injecten           : obat-obatan Penisilin , Streptomisin (Parenteral)
4.      Lain-lain          : virus / produk bakteri
5.      Contactan        : obat-obatan (0,01 % obat bebas), zat-zat kimia
REAKSI ALERGI
Menurut Gell & Coombs ® 4 Type
1.      Type I  =Reaksi cepat
Reaksi Anafilaksis
Reaksi Reagin Dependent
Immediate Hypersensitivity R
2.      Type II             =Reaksi Sito-toksik
  1. Type III            =Reaksi Antigen - Antibody kompleks
  2. Type IV=“Cell Mediated Immun Reaction
DASARNYA :
1.      TERJADI DEGRANULASI SEL MAST.
2.      PENGELUARAN VASOAKTIF AMINàhistamin
3.      TIMBUL GEJALA KLINIK :
4.      VASODILATASI, PERMEABILITAS P.DRH.
5.      EXUDASI, OEDEMA, OBSTRUKSI BRONKHUS,
6.      KONTRAKSI OTOT POLOS.
7.      IgE MELEKAT PADA DINDING SEL MAST (bridging)
8.      ANTIGEN TERIKAT OLEH  Fab. DARI IgE
MEDITOR – MEDIATOR PENTING DALAM REAKSI ALERGI
HISTAMIN        : DALAM CEL MAST
KONTRASI OTOT POLOS
                        DILATASI PEMBULUH DARAH
                        PERMEABILITAS ­­
                        EXUDASI         OEDEMA
LEUKOTRIENE := SRS – A (SLOW REACTIN SUBSTANCE
                        OF ANAPHYLAXIS)
                        KONTRAKSI OTOT POLOS
SEROTONIN     :DILATASI PEMB. DARAH
                        PERMEABILITAS ­­
                        BRONKUS OBSTRUKSI
MACAM – MACAM TES
1.      TES KULIT
2.      TES PROVOKASI BRONKIAL
3.      TES LATIHAN ( EXERCISE )
LABORATORIUM PENTING
1.      JUMLAH EOSINOFIL
2.      KADAR IgE (TOTAL/SPESIFIK) DALAM SERUM
PERIKSAAN LAIN
1.      X FOTO : THORAX
: SINUS PARANSALIS
ORGAN SASARAN
1.      DIGUNAKAN OLEH DOERR ( 1922 )
2.      ARTINYA : ORGAN ATAU JARINGAN TEMPAT TIMBULNYA REAKSI ALERGI
3.      MISAL :PENYAKIT………………..ORGAN SASARAN
ASMA………………………  JL. NAFAS
URTIKA……………………  KULIT
RINITIS……………………   HIDUNG
MIGRAIN………………..   S.S.P
DIARE…………………….   TRACT. DIGEST
CONJUNCTIVITIS……..  MUKOSA MATA
NEUROMIALGIA…….. SIS NEUROMUSCULAR
* DASAR R. TYPE IV
1.      REAKSI TERJADI ANTARA Ag. SPESIFIK DENGAN LIMFOSIT SENSITIF à
2.      PELEPASAN LYMPHOKINS
3.      MENIMBULKAN SITOTOKSIK LANGSUNG TANPA MELIBATKAN Ig & COMPLEMENT
CONTOH :
SENSITIVITAS REAKSI THD. TBC.
REAKSI THD. TRANSPLANTASI
TUMOR IMUNITAS
CONTACT DERMATITIS
SKEMA :
1.      IKATAN ANTARA Ag OLEH T LIMFOSIT
2.      PELEPASAN MEDIATOR DENGAN AKTIVITAS BIOLOGIS YANG LUAS (MAF)
3.      AKIBATNYA MEMPERBESAR IMUN RESPONS SELULER
4.      AKUMULASI SEL MACHROPHAG & LEUKOCYT KE TEMPAT REAKSI
5.      NEKROSE JAR. , ULSERASI LOKAL
Respon DTH terhadap M.TBC merupakan pisau bermata dua. Imunitas terhadap M. TBC menimbulkan respon DTH yang mengaktifkan makrofag untuk memasang batasan kuman dari paru, kuman diisolasi dalam lesi granuloma yang disebut tuberkel. Enzim litik yang sering dilepas makrofag yang diaktifkan dalam tuberkel merusak jaringan paru sehingga terjadi kerusakan jaringan yang lebih besar dibanding keuntungan yang diperoleh darr DTH


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar